Saya orang tua yang masih suka bilang “mau belajar.” Kadang di laptop. Kadang di buku. Minggu kemarin, tempat belajarnya beda: dobok dan sabuk putih yang masih kaku di pinggang.
Minggu, 14 September 2026, jam 15.00, di NLION GOM Gunung Sindur.
Itu latihan taekwondo saya.
Kenapa ayah ikut sabuk putih?
Bukan karena mau jadi juara. Bukan juga karena tiba-tiba merasa masih muda.
Lebih ke ini: saya enggak mau anak cuma dengar saya bilang “penting belajar,” tapi enggak pernah lihat ayahnya benar-benar jadi murid lagi. Susah, malu, napas ngos-ngosan, tetap datang.
Anak saya sebenarnya lebih dulu ikut taekwondo — di Bukit Dago. Saya sengaja tidak mendaftar di tempat yang sama. Bukan karena enggak mau bareng. Justru supaya kami sama-sama fokus: dia murid di sana, saya murid di sini. Kalau satu tempat, khawatir saya jadi “ayah yang nunggu / mengoreksi,” atau dia jadi malu / teralih karena ayah di barisan. Tempat beda, fokus utuh.
Sabuk putih itu jujur. Artinya pemula. Artinya masih banyak yang belum bisa. Dan saya oke dengan itu.
Siang itu di GOM
Cuaca siang Gunung Sindur biasanya panas. Jam tiga sore, badan sudah agak lelah dari rutinitas rumah. Tapi pas masuk area latihan, kepala saya agak “reset.” HP disimpan. Pikiran kerja dilipat sebentar.
Yang langsung kelihatan: hampir semua anak taekwondo diantar dan didampingi orang tua. Ada yang nunggu di pinggir. Ada yang bantu rapikan sepatu. Ada yang sesekali bilang “ayo, semangat.” Mereka datang sebagai anak — dan orang tuanya datang sebagai pengantar.
Saya? Pengecualiannya. Enggak ada yang nganter. Enggak ada yang nemenin dari pinggir. Anak saya sedang fokus di Bukit Dago; saya fokus di GOM. Saya datang sendiri, pakai dobok, antre di barisan murid. Bukan ayah yang nunggu anak latihan — tapi ayah yang ikut latihan, di tempatnya sendiri.
Salam. Pemanasan. Lalu materi baru: delapan gerakan. Belum ada tendangan. Masih di tahap fondasi — posisi, tangan, arah badan, dan cara mengulang sampai rapi.
Dari luar kelihatannya sederhana. Pas dikerjakan, lengan, pinggang, dan fokus harus bareng. Satu gerakan salah sedikit, yang berikutnya ikut goyah. Delapan itu terdengar sedikit. Di latihan, delapan itu cukup buat kepala penuh dan napas agak pendek.
Delapan gerakan yang belum “keren” — tapi justru penting
Kalau ditanya “minggu ini belajar apa?”, jawabannya enggak seksi. Enggak ada tendangan terbang. Enggak ada film aksi. Klik langkah di bawah — bahasa Indonesia dulu, istilah Korea menyusul.
Junbi
Berdiri siap (junbi / 준비). Kaki sejajar, tangan di depan, badan tenang. Kedengarannya “cuma berdiri.” Padahal ini pelajaran orang dewasa: sebelum gas, siap dulu. Junbi = tombol mulai dengan hormat.
Delapan itu, kalau ditulis di kertas, keliatan basic. Pas dikerjakan bareng anak SD dan TK — yang orang tuanya nunggu di pinggir — basic itu jadi cermin. Saya ayah berumur, sabuk putih yang sama, barisan yang sama, datang tanpa pengantar. Kadang yang lebih rapi justru mereka. Suasananya seru, bukan menakutkan.
Ada momen kecil yang nempel. Pas juchum seogi saya goyah atau jireugi saya “nyapa,” saya ketawa sendiri. Bukan malu yang bikin mundur — lebih kayak, “Oh, otak sudah paham, badan belum ikut.” Itu perasaan yang familiar banget buat orang yang biasa belajar skill baru.
Dan jujur, saya sempat mikir, “Kapan mulai nendang?” Ternyata belum. Minggu ini belum waktunya. Sabuk putih memang diajari sabar dulu — kuasai junbi, juchum seogi, dan jireugi sebelum kaki terbang.
Kuis singkat
Kuda-kuda dalam bahasa Korea disebut?
Tinju lurus disebut apa?
Kenapa ayah latihan di GOM, bukan di tempat anak (Bukit Dago)?
Keseruan tanpa tendangan
Keseruannya minggu itu justru karena belum spektakuler. Delapan gerakan. Tanpa tendangan. Tetap seru.
Serunya karena:
- Saya hadir di tempat yang menuntut disiplin — bukan cuma nonton dari pinggir kayak orang tua lain yang nunggu anaknya.
- Saya ketemu orang lain yang juga mau tumbuh — termasuk anak SD dan TK yang diantar orang tua, lalu latihan di barisan yang sama dengan saya.
- Saya pulang dengan badan lelah yang “bersih,” bukan lelah scroll tanpa arah.
- Saya punya cerita konkret buat anak: “Ayah juga lagi belajar di GOM. Kamu di Bukit Dago. Kita sama-sama fokus. Minggu ini ayah delapan gerakan baru. Tendangan? Belum.”
Kadang parenting itu diajarin lewat ceramah. Minggu itu saya lebih suka ajarin lewat contoh yang agak konyol: ayah ikut antre jadi pemula di tempat lain — biar anak tetap punya ruangnya sendiri, dan ayah punya ruangnya sendiri.
Yang saya bawa pulang
Taekwondo di level saya sekarang masih soal dasar. Hormat. Postur. Napas. Delapan gerakan. Ulangi. Ulangi lagi. Tendangan menyusul nanti.
Tapi di luar latihan, pelajarannya nyambung ke rumah:
Belajar itu enggak habis di ijazah anak.
Disiplin itu enggak cuma buat mereka.
Dan “mau mulai” lebih penting daripada “langsung jago.”
Saya masih sabuk putih. Masih sering salah. Masih perlu diingatkan.
Tapi tiap minggu saya datang ke NLION GOM Gunung Sindur — sementara anak saya di Bukit Dago — saya diingatkan satu hal yang ingin saya wariskan:
Orang tua yang baik bukan yang sudah selesai belajar.
Orang tua yang baik adalah yang mau terus jadi murid — dan kadang tahu kapan harus latihan di jalur sendiri.
Coba di rumah (centang kalau sudah)
0/4 selesai
Sampai ketemu di latihan berikutnya — semoga delapan gerakan itu makin rapi, napas lebih tenang, dan kalau nanti baru dikasih tendangan, badan saya sudah siap. Sabuk putih ini masih perlu dipakai dengan rendah hati.